Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•1:44 AM
Pelajaran renang, sebuah kebutuhan atau sekedar "trend" untuk meningkatkan popularitas sebuah sekolah ?

Dalam dunia pendidikan saat ini, dengan mudah orang tua dapat menemukan berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh sebuah lembaga pendidikan yaitu sekolah. Mulai dari kurikulum "plus", sarana prasarana yang "wah" dan tenaga pengajar yang "super". Ada yang menamakan dirinya sekolah plus dan ada juga yang menyampaikan standar sekolahnya sebagai sekolah international. Hampir semua sekolah tidak lagi malu-malu untuk menginformasikan berbagai kelebihan yang dimilikinya dibanding dengan sekolah lain. Setiap akhir tahun pelajaran, berbagai iklan tentang sebuah sekolah ramai menghiasi halaman-halaman media massa, bahkan sampai media eletronik. Hal ini memang lebih banyak terjadi pada sekolah-sekolah di kota besar, namun tidak berarti sekolah di tingkat kotamadya dan kabupaten tidak melakukan hal ini. Hanya saja, mungkin kualitas dan kuantitas informasi disajikan lebih sederhana.
Dalam tulisan ini, saya tergerak untuk menyoroti masalah pelajaran renang dan sarana kolam renang yang dimiliki oleh sekolah tertentu. Pemikiran yang ingin dicapai adalah apakah pelajaran renang bagi anak usia dini memiliki manfaat dan perlu diterapkan dalam kurikulum sekolah ?.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•11:54 AM
Mengenal dan Mengenang Pdt.Dr. Andrew Gih 
Pdt. Dr. Ji Zhiwen, atau lebih dikenal di Indonesia sebagai Pdt. Dr. Andrew Gih, lahir pada tanggal 10 Januari 1901 di Shanghai. Ayahnya, Ji Youren, seorang ahli ajaran Konfusius, membuka sebuah sekolah di rumahnya. Sejak kecil, Andrew menerima pendidikan Konfusius tradisional dari ayahnya. Ibunya seorang Buddhis, vegetarian, orang yang berbudi dan berpikiran terbuka.
Di rumah mereka masih terdapat plakat-plakat leluhur dan mereka masih merayakan perayaan-perayaan tradisional serta berdoa untuk arwah leluhur. Di masa muda, Andrew adalah seorang yang pendiam serta tidak banyak bersosialisasi. Ia sering diajak ibunya ke biara untuk membakar dupa dan mendengarkan para rahib membacakan doa; namun pada saat itu ia sama sekali tidak tertarik bahkan dapat dikatakan dingin terhadap hal-hal keagamaan.
Orang tua Andrew Gih memiliki empat orang putera dan tiga orang puteri, tiga di antaranya meninggal pada waktu bayi. Sebagai anak tertua, ia menyaksikan jasad adik-adiknya yang dimasukkan ke dalam peti mati dan dikuburkan. Ia melihat wajah-wajah sedih dan air mata orang yang melayat. Walaupun ia belum mengerti makna dari kematian, namun pertanyaan tentang mengapa orang mati dan apa yang terjadi setelah mereka mati mulai tertanam di dalam hatinya.
Pada usia dua belas tahun, ayahnya mengalami sakit keras, dan tidak lama kemudian ayah pun meninggal. Setelah kematian ayahnya, Andrew membantu ibunya dari pagi hingga malam hari bekerja keras bercocok tanam dan menjahit baju untuk menghidupi keluarganya. Sebagai anak yang berbakti, hatinya terharu ketika menyaksikan ibunya harus bekerja keras seorang diri, maka ia berjanji bahwa setelah dewasa nanti ia akan menghasilkan uang yang banyak untuk membalas kebaikan ibunya.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•10:31 PM
MENYUSUN PUZZLE KEHIDUPAN ANAK KITA.
Mata saya terus mengikuti apa yang sedang dikerjakan oleh putra kami. Saya memperhatikan mimik wajah Josh yang selalu berubah takkala ia mengambil potongan demi potongan puzzle yang sedang ia susun. Tangannya yang kecil berusaha keras mencocokkan setiap potongan puzzle tersebut dengan gambar yang disediakan dalam buku cerita dipegangnya. Mata dan seluruh organ tubuhnya difokuskan untuk menyelesaikan susunan puzzle tersebut. Berbagai reaksi timbul selama ia mengerjakan puzzle tersebut, ada kalanya ia frustasi dan berkata dengan suara keras, "Bagaimana ini?", namun ada kalanya ia tersenyum ketika potongan demi potongan puzzle dapat ia letakkan tepat pada tempatnya. 
Melihat apa yang sedang dilakukan oleh anak kami, Josh, saya mulai memikirkan kondisi dan peran kita sebagai orangtua bagi anak-anak kita. Mungkin apa yang sedang dikerjakan oleh Josh dapat memberikan kepada kita gambaran mengenai tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua. Saya mulai membandingkan antara menyusun potongan puzzle dengan mendidik dan membesarkan anak kita di jaman post millenium ini. Kita seakan-akan sedang berusaha menyusun potongan puzzle kehidupan anak kita. Saya memikirkan bahwa Allah telah menetapkan rencana yang terbaik dan terindah bagi anak kita. Hal ini juga berlaku bagi diri kita. 
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•10:11 PM
BELAJAR MENJADI SEORANG AYAH.
(Sekilas Bunga Rampai Kehidupan)
"I had rather be on my farm than be emperor of the world". 
George Washington, presiden pertama Amerika Serikat.

17 Januari 2010, 14.30-15.50 WIB. Menikmati gengaman tangan kecil Josh membuat saya memahami apa yang dikatakan dan dirasakan oleh George Washington. Hasil pemikirannya bahwa menghabiskan waktu di rumah sendiri (atau waktu bersama dengan keluarga) jauh lebih berbahagia dari pada menjadi kaisar di dunia ini sungguh tepat bagi saya secara pribadi. Kedalaman perasaan itulah yang membuat saya terus memegang tangan Josh menyusuri pertokoan di jalan Haranggaol. Minggu sore itu, kawasan wisata Prapat di propinsi Sumatera Utara yang terkenal dengan keindahan panorama Danau Toba cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal. Bis karyawisata yang membawa rombongan anak-anak sekolah berhenti tepat di depan toko yang baru saja kami singgahi. Melihat rombongan anak-anak remaja usia sekolah dan mobil angkutan umum yang lalu lalang di jalan tersebut, saya memutuskan mengendong Josh di pundak untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Dari pengamatan saya, kelihatannya rombongan karyawisata siswa tersebut hanya didampingi oleh satu suster katolik dan ia pun sibuk masuk keluar dari satu toko ke toko lain. Mungkin ada keperluan mencari oleh-oleh bagi keluarga atau sanak famili sehingga perhatiannya tidak tertuju untuk menjaga anak-anak remaja tersebut. Hanya kira-kira 10 menit duduk di pundak saya, Josh meminta turun dan mau berjalan sendiri. Setelah kakinya menapaki jalan aspal tersebut, ia segera berjalan sekehendak hatinya. Saya menuruti keinginannya sekali lagi untuk menyusuri toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan tersebut. Tiba-tiba ia bertanya, "Papa, apa ini?" sambil jarinya menunjuk ke satu benda yang ia maksudkan. Mata saya menatap benda tersebut dan berkata, "plastik permen". "Oh...lalu apa ini?" ia menanggapi jawaban saya dan kembali bertanya, "apa ini?". Saya menjawab lagi, "kulit mangga". Ia bertanya lagi,"apa ini?", saya jawab,"kulit kacang.". "Apa ini?", "kotak rokok". "Apa ini, papa?", "bungkusan permen.", "Apa ini?", "bungkus permen.", "Apa ini?", "Bungkus rokok.", "Apa ini?"..."Apa ini?" dan "Apa ini?"...
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•10:11 PM
MENERAPKAN DISIPLIN DENGAN TEPAT BAGI ANAK.

Sebagai orangtua dan guru, tidak mungkin kita tidak menerapkan disiplin kepada anak kita. Disiplin merupakan tindakan pertanggungjawaban status atau posisi atas kepercayaan dari Allah bagi orangtua atau guru. Kita harus memandang bahwa disiplin adalah suatu proses yang positif untuk membentuk seorang anak menjadi pribadi yang memiliki integritas dan tangguh untuk menjalani kehidupannya serta memberikan pengaruh positif bagi orang lain. Disiplin adalah pernyataan keseimbangan kasih dan keadilan serta kepedulian yang harus dilakukan oleh seorang guru dan orangtua bagi anak demi pembentukan jati diri yang mandiri dan pertumbuhan karakter kristiani yang mendatangkan kehidupan bagi sesama. Sebagai pendidik dan orangtua yang baik, kita mengerti bahwa tanpa disiplin maka anak kita akan tumbuh menjadi anak yang tidak terkontrol dan tidak belajar memiliki tanggung jawab di dalam kehidupannya. Disiplin juga berarti menerapkan suatu batasan bagi seorang anak. Dr. Hendry Cloud dan Dr. John Townsend dalam bukunya Boundaries with kids, menyampaikan bahwa, "Batasan menjelaskan di mana batas akhir seseorang dan di mana batas awal orang lain. Batasan-batasan bukanlah sifat lahir anak-anak". Agar anak memahami dan mengenal diri mereka dan apa yang menjadi tanggung jawabnya, maka orangtua harus memiliki batasan-batasan atau saya menyebutnya sebagai penerapan disiplin praktikal.
Memang ketika menjalankan disiplin ini terkadang tidak enak rasanya karena bisa saja menimbulkan rasa sakit hati dari sisi sang anak akibat ketidakpahaman atas maksud baik dan pengajaran kita, namun apabila kita ingin melihat anak kita tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang benar di dalam moralitas dan berhasil menjalani kehidupannya, maka kita harus menjalankan disiplin ini dengan serius. 
Di dalam firman Tuhan ada nasehat kepada kita tentang sikap Tuhan Allah kepada anak-anakNya, "Hai, anakku, jangan anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya,karena Tuhan menghajar(mendisiplin) orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah (mencambuk, memecut) orang yang diakuinya sebagai anak. Jika kamu menanggung ganjaran (disiplin); Allah memperlakukan kamu seperti anak. Dimanakah terdapat anak yang tidak dihajar (didisiplin) oleh ayahnya?...."(Ibrani 12:5-7).
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•12:15 AM
PRINSIP MENGAJAR ANAK MEMBACA SEJAK BALITA.

Apakah yang anda rasakan ketika anda melihat seorang anak umur 1 tahun dapat mengerti arti sebuah kata yang diberikan kepadanya? Sekalipun ia belum dapat mengucapkan kata tersebut, namun ia mampu memahami dan menunjukkan arti kata yang dimaksud oleh kita? 
Apakah yang anda pikirkan ketika anda menyaksikan seorang anak berumur 2 tahun dapat  membaca kata demi kata yang diberikan kepadanya? Apakah yang anda ingin ketahui ketika anda menyaksikan seorang anak berumur 3 tahun mampu membuat dan membaca kalimat sederhana melalui keyboard komputer ataupun papan ketik handphone? Hanya anda yang bisa menjawab. Namun secara pengalaman pribadi, sampai hari ini, saya masih terkagum-kagum oleh kemampuan anak kami, Josh. Kemampuannya membaca dari hari ke hari semakin mengagumkan dan perbendaharaan kata yang semakin banyak membuat saya tidak habis mengerti betapa luar biasanya kemampuan otak dari Sang Pencipta kepada seorang anak yang berumur 3 tahun. Sebagai pendidik, saya tahu bahwa otak manusia terdiri dari dua bagian yaitu otak kanan dan otak kiri. Keduanya terbelah persis di tengah kepala, dari depan ke belakang. 

Saya juga tahu, bahwa otak manusia itu memiliki 1 triliun sel otak, yang terdiri dari 100 milyar sel aktif, dan 900 milyar sel yang menghubungkannya. Selain itu manusia juga memiliki Multiple Intelengence, bakat dan minat serta talenta. Namun saya tetap tidak habis berpikir bagaimana caranya Allah membuat ia mampu mengikuti pelajaran yang disusun oleh ibunya, bahkan lebih dari itu, Josh juga mengerti kehidupan kami, ia tahu bahwa kami harus bekerja, ia tahu tidak boleh menganggu ayahnya kalau sedang beristirahat, ia mengerti dan bersimpati bila ibunya mengalami kesakitan, dan dari sisi intelektualitas, di usianya yang masih dini, ia mampu menghafal beberapa cerita yang tertulis dalam buku cerita yang pernah dibacakan baginya, ia mampu mengerti arah dan mengenali tempat dengan detail, ia  mampu menghafal dialog film-film Barney, Diego dan cerita heroik (Reki Ranger ataupun Ultraman). Anak kami Josh, mampu mengingat setiap kisah dan urutan kalimat dalam buku cerita ataupun film tersebut dengan tepat.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•8:45 AM
Prakata : You'll never be lonely merupakan seri tulisan kisah nyata yang ditulis oleh para remaja sendiri bersama saya tentang keteguhan perjuangan dalam kehidupannya untuk mengasihi dan menjadi berkat bagi sesama serta memuliakan Allah. Kiranya kesaksian yang diberikan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, terutama para remaja di bumi ini. 
 
KAMU INI SAMPAH.....!
(Dikisahkan oleh Peter)

Plak.....sebuah tamparan keras disertai dengan perkataan, "Dasar, tidak berguna, tidak tahu diri, sudah besar tetapi tidak bisa apa-apa. Lebih baik kamu keluar dari rumah ini, rumah ini tidak menampung orang yang tidak berguna, di rumah ini tidak ada yang numpang hidup. Dasar sampah."
Pukulan itu tepat mendarat di bagian belakang kepalaku, rasa sakit dan pening menyebabkan sekelilingku rasanya berputar dengan cepat. Telingaku berdenging. Namun bukan hanya pukulan itu yang menyakitkan, tetapi perkataan yang keluar dari mulut ayahku jauh lebih menyakikitkan dan meninggalkan luka yang dalam di hati ini. Aku ingin menjerit saat itu ,namun rasanya semua tertahan ditenggorokan ini. Tak ada suara apapun yang keluar dari mulutku. 

Aku tahu, mataku tidak meneteskan air mata namun memerah, memandangi ayahku dengan luapan emosi,tanganku bergetar dan panas tubuhku meningkat dengan cepat, suara nafasku terndegar dengan jelas. Hatiku berkali-kali menjerit."Memangnya aku ini minta dilahirkan, memangnya aku ini ingin hidup sebagai anakmu,aku juga tidak sudi engkau jadi ayahku, Apa yang pernah engkau berikan padaku? Kalau engkau ingin aku menjadi orang, mana pernah kamu mengajariku sopan santun, pernahkah engkau mengajariku berbicara dengan nada yang baik terhadap orang lain, atau bagaimana caranya berdagang yang baik? Kapan engkau peduli terhadap pelajaranku di sekolah, pernahkah engkau bertanya bagaimanakah nila-nilai raporku? Tahukah engkau bahwa setiap kali aku makan, makanan itu begitu susah ditelan karena penghinaanmu? Tidak, engkau tidak pernah memberikan apapun kepadaku, engkau tidak pernah mengajariku apapun tentang hidup ini.. dan engkau tidak pernah peduli kepadaku... Lalu kenapa aku dinilai tidak berguna? Engkau...engkau tidak pantas menilaiku....engkau tidak pantas menjadi seorang ayah,...dan engkau tidak pantas menjadi ayahku..."Semua kalimat itu hanya tertahan di tenggorokanku,ditelan oleh kemarahanku. Aku melihat ibuku menangis, aku tahu ia juga merasa tidak berguna. Ia tidak bisa melindungi anaknya,dan ia tidak bisa juga membenarkan tindakan suaminya.
Mataku tetap menatap ayahku, sinar mataku tajam langsung melihat ke arah matanya. Siang itu hatiku sudah bulat, aku akan melawannya, sekalipun aku tahu hal itu akan sangat melukai hati ibuku, tetapi aku sudah tidak peduli. Sudah terlalu lama aku dihina, tertekan, dianggap tidak berguna dan sebagai parasit di rumah, yang hanya bisa menumpang hidup, numpang makan. Tekadku sudah mantap, bila sekali lagi ia memukul aku, maka aku tidak akan segan lagi melayangkan pukulan juga ke wajahnya. Mataku menatapnya dengan amarah,entah ia menangkap perkataan melalui sinar mataku atau tidak, yang berkata "ayo pukul lagi, sekarang aku tidak lagi segan terhadapmu, aku sudah tidak peduli lagi, aku sudah siap keluar dari rumah ini dan sekalian menjadi anak durhaka."
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•1:01 PM
BUILDING CHILDREN  THROUGH CHRISTIAN CHARACTER AT CHRISTIAN SCHOOL.

One day, parents came to my office and asking for their child education. They was talking about our service and teaching methode at school. I know they are a good parents and concern about their child education, especially Christian education. We often share our school mission about Christian education. So, they want to know how we do that Christian education. They want to know what the basic of Christian education at our school. Maybe this concern not just from these parents, I'm sure all of us care about this topic. If there is a school said they are a Christian school, or Christian education curriculum, we should know what they means about Christian education, especially concern about Christian character building. So, here I try to write some basic point about Christian character building that we can use or think at Christian school. What we should do?
Christian curriculum about charater building is must based on 3 things :
1. All teacher or educator must be a believer and have a Christian life.
If we want our children become a person who have a Christian character like our savior Jesus Christ, we must start from that educator. All person at that Christian school must receive Jesus Christ become his personal savior, and with pass their time, they must have a progress spiritual life in Jesus Christ character. With all of that thing, we can hope that educator or teacher have a commitment to transfer their life to our children. I'm sure all of us like and hope our beloved child can face the situation at their world. We hope our children can grow up and become a tough people, like a lighthouse can face storm, heavy rain and all bad weather at the sea. With all the hard circumstances, the lighthouse still stand firm and unshakeable. For this hope, teacher at that christian school must have spiritual life grow in their life. With this condition, they can commit to regularly pray for the students will grow in loving relationship to God. With this life, they can encourage children to have a positive life and become a person who always lean on God.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•11:38 PM
MARI BERKATA YANG BAIK.

Ada satu hal yang saya belajar dari Pdt. Jesaya Abdi Ch.Djajadihardja(gembala sidang GKMI Anugerah,Jakarta) ketika saya mendapat kesempatan pelayanan di gereja tersebut. Beliau memiliki satu kebiasaan yang sungguh baik yaitu selalu berkata, "Bagus, bagus...". Kebiasaannya memberikan dorongan bagi orang lain merupakan hal yang memberkati dan memberikan motivasi selama saya pelayanan di sana. Setiap kali bila beliau menanyakan hasil ataupun progres perkembangan program gereja kepada saya, dan ketika saya selesai menyampaikannya, beliau selalu berkata, "bagus...bagus..". 
Mendengar perkataan tersebut, sungguh mendatangkan kelegaan dan kepuasan bagi diri, sekalipun kita tahu bahwa perkembangan pelayanan kita belum maksimal, dan anehnya, justru dengan berkata demikian, semakin membuat saya giat untuk melayani. Perkataan itu memberikan kekuatan dan dorongan yang melahirkan energi baru bagi diri saya. Sejak melayani di tempat beliau, saya belajar untuk selalu mengatakan hal-hal yang baik dan mampu memotivasi orang lain.
Kebiasaan ini juga dilakukan oleh Kristus Yesus. Jikalau kita memperhatikan dengan seksama bagaimana pelayanan Kristus dan apa yang dikatakannya, kita akan dengan mudah mendapatkan bahwa di dalam setiap kesempatan yang ada, Kristus selalu memberikan perkataan yang menghibur, menguatkan dan memotivasi orang lain untuk selalu maju dan berjuang di dalam kehidupan ini.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•11:06 PM
IMAN YANG MEWASPADAI DUNIA.
Suatu hari, ketika saya baru saja keluar dari ATM(Automatic Teller Machine) di kota Anjungan, Kalimantan Barat, seorang pria paruh baya dengan aksen bahasa melayu Malaysia menghampiri dan meminta tolong kepada saya untuk menjadi mediator dalam sebuah transaksi jual beli. Ia menyatakan kesulitannya melakukan transaksi tersebut karena sang penjual berbicara dalam bahasa Dayak. Sebelum saya memberikan jawaban atas permintaannya, pemuda yang berdiri disampingnya segera mendekati saya lalu berbicara dalam bahasa dayak Ahe bahwa ia mau menjual sesuatu kepada orang Malaysia tersebut. Melihat ekspresi wajah yang menunjukkan kesungguhan meminta tolong, maka saya menyatakan kesediaan untuk membantu mereka. Setelah kami bertiga duduk di sebuah warung kopi, maka pemuda dayak itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong hitam yang dia bawa. Benda tersebut adalah sebuah taring babi hutan yang berwarna putih mengkilat. 
Tanpa membuang waktu, pemuda Dayak tersebut lalu bercerita bahwa taring babi hutan itu memiliki kekuatan magis yaitu barang siapa yang memiliki dan memegang taring babi hutan tersebut akan kebal terhadap senjata tajam, baik itu pisau maupun peluru. Kalimatnya terpotong karena pria Malaysia tersebut meminta saya menjelaskan perkataannya. Sambil memberikan penjelasan, saya melihat pemuda Dayak tersebut mengeluarkan pisau dari dalam bajunya. Lalu ia menyambung kalimatnya bahwa ia akan membuktikan apa yang dikatakannya adalah benar. Selesai ia berkata demikian, saya segera menerjemahkan perkataannya kepada pria tersebut sebab raut wajahnya menunjukkan ia ingin tahu apa maksud pemuda Dayak tersebut mengeluarkan pisau.
Melihat saya menerjemahkan dan memberi penjelasan kepada pria tersebut, sang pemuda Dayak tersebut diam sebentar. Lalu pria Malaysia tersebut meminta saya menyampaikan bahwa ia ingin sekali melihat bukti kehebatan dari taring babi hutan tersebut. Segera saya menyampaikan maksud itu kepada pemuda Dayak. 
Di depan kami, sang pemuda Dayak segera memperagakan "kehebatan" kuasa taring babi hutan tersebut. Ia mengores, menusuk, mengiris tubuhnya dengan pisau, dan memang tidak tampak terluka dan mengeluarkan darah. Lalu ia meminta pria Malaysia tersebut untuk melakukan hal yang sama sekali lagi terhadap dirinya. Pria Malaysia tersebut melakukannya, namun tampaknya ia tidak melakukan dengan sekuat tenaga ketika mengores, menusuk dan mengiris tubuh sang pemuda Dayak tersebut. Mungkin ia tidak tega, takut atau hal apa, saya sendiri tidak jelas. Selesai aksi tersebut, lalu sang pemuda Dayak berkata kepada saya bahwa ia akan memberikan taring babi hutan itu kepada pria Malaysia tersebut, dan pria itu harus mengengam dengan tangannya, maka ia akan menjadi kebal terhadap senjata tajam. Setelah saya sampaikan perkataan itu, pemuda Dayak itu segera memberikan taring babi hutan tersebut kepada pria Malaysia itu. Lalu ia berkata bahwa ia tidak akan menusuk atau mengores tubuh pria tersebut, namun hanya akan memotong rambutnya saja. Pemuda Dayak itu meminta saya menyampaikan kepadanya bahwa dengan memiliki taring babi hutan tersebut, bukan hanya tubuh menjadi kebal, namun rambut pun tidak mungkin terpotong oleh benda tajam.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•5:58 PM
WHAT WE CAN DO FOR THIS GENERATiON?

We often listen to the bad news about young people from the attention of the media. For example, teenagers use drug overdoses and do bad habit at school. When we know these things happened to this generation, we should ask ourselves about things we can do for this generation. We know God loves all of them, God cares about these young people. So, if we want to see a next better generation, I think we have to do something empowering millennials.
I try to write some practical ways below here, and hope in these ways can help us to encourage and mold this millennials generation.

First, accept them with no condition. 
Sometimes, we want to accept our young people only with certain condition, if they have good habit or something else. We love if they do things as we like, but we forget, those young people never like their bad condition too, sometimes their situation force them to lives in there.  

I first began to understand the depth of a Millennial's yearning for adult connection and how invigorating a downward mentoring relationship could be when I met all the students at Kalam Kudus Christian School Kosambi. Lives with them for 3 years make me improve my understanding about teenagers' lives. For me, I can get a lot of good example from them. Example, young people name Thomas Tjiawi (RIP.19 Sept.2009) and Sintara "Arsenal", and all his friends, they're really wonderful young people. Have a strong motivation to get a better life and want to do something for human life. They are a wonderful example of the hope and promise of this generation of young people.

As a parents or educator today, we have to understand that young people every day face a pressure situation. They are surrounded with bad condition. So, we must accept them with no condition.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•3:12 AM
MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK MELALUI HAL SEDERHANA

Pada saat ini, bukan merupakan hal yang aneh bila kita mendapati ada anak-anak TK atau SD kelas 1 yang begitu padat jadwal kegiatannya. Pagi hari pergi ke sekolah, lalu les membaca,menulis, berhitung dan mengambar setelah tidur siang, kemudian dilanjutkan dengan les piano atau biola pada malam hari. Demikian aktivitas sang anak setiap hari. Ketika mendapatkan fakta ini, saya sering berpikir, apakah memang perlu demikian?. Saya percaya orangtua memiliki maksud yang baik bagi anaknya, yaitu berusaha meningkatkan kecerdasan anaknya dengan berbagai metode pembelajaran yang dipromosikan oleh lembaga pendidikan non formal, namun apakah cara demikian tepat untuk menolong anak kita tumbuh semakin cerdas atau jangan-jangan malah membuatnya menjadi kelelahan sehingga justru mengakibatkan ia tidak maksimal dalam menyerap materi pelajaran? dan lebih mengenaskan lagi, bila ternyata apa yang kita lakukan sama sekali tidak menolongnya untuk menjadi semakin cerdas. Tentu hal ini perlu kita kaji secara mendalam. 
Berikut ini ada beberapa cara sederhana yang saya harapkan dapat menjadi saran dan pertimbangan untuk dilakukan oleh orangtua supaya dapat meningkatkan kecerdasan(kecerdasan intelektual, emosi, moral dan spiritual) yaitu :
1. Arahkan ia lebih banyak berbicara tentang apa yang ia pikirkan.
Sebagai orangtua, sering kali kita merasa agak terganggu ketika anak kita bicara terlalu banyak. Apalagi bila ia berbicara kepada kita di saat kita sedang sibuk ataupun marah dan tidak memiliki mood untuk berbicara. Biasanya saat itu kita akan memerintahkan ia untuk diam. Namun tahukah kita, bahwa dengan melakukan hal demikian, kita justru menghambat pertumbuhan kecerdasannya. Seperti yang disebutkan di atas, kecerdasan manusia tidak hanya berbicara mengenai kecerdasan intelektual saja, namun juga kecerdasan emosi, moral dan spiritual. Kita tahu bahwa masa kanak-kanak merupakan masa terbaik baginya untuk membentuk dan meningkatkan kecerdasannya. Masa kanak-kanak merupakan masa di mana ia perlu banyak mendapat kesempatan untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi lingkungannya, dan hasil pembelajaran melalui panca inderanya perlu diekspresikan keluar, dan salah satu caranya yaitu berbicara. Sebab itulah, hendaknya kita sebagai orangtua jangan selalu melarang anak kita berbicara atau berkomentar tentang sesuatu. Sikap yang tepat adalah kita mengarahkan pembicaraan atau komentarnya atas sesuatu. Kalau pun ada komentar atau pembicaraan  yang tidak sopan, hendaknya kita tetap menghargai dirinya. Jangalah memarahi ia dihadapan orang lain atas komentarnya, apalagi di depan muka orangtua temannya. Berikanlah rasa aman kepadanya untuk menyampaikan pendapat dan mendiskusikan sesuatu.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•9:13 AM
Prakata : You'll never be lonely merupakan seri tulisan kisah nyata yang ditulis oleh para remaja sendiri bersama saya tentang keteguhan perjuangan dalam kehidupannya untuk mengasihi dan menjadi berkat bagi sesama serta memuliakan Allah. Kiranya kesaksian yang diberikan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, terutama para remaja di bumi ini. 

KETIKA PENCOBAAN ITU DATANG KEPADAKU
(dikisahkan oleh Yuliana)


"Setiap pencobaan akan dapat dilalui bersama Tuhan, tapi koq......"
Sebagai manusia yang penuh dengan ketidaktahuan ini, terkadang saya merasa bingung dan dipermainkan Allah. Dalam kehidupan ini semakin lama semakin banyak persoalan ataupun masalah yang melukai hati ini. Kadang aku berpikir, di masa remaja ini saja sudah begitu banyak masalah, apalagi nanti ketika aku dewasa. Aku membayangkan, akan semakin berat dan rumit persoalan yang harus kuselesaikan. Selesai satu masalah, muncul lagi masalah yang lain. Bahkan terkadang satu masalah belum selesai, sudah muncul masalah baru. Bukankah pencobaan yang kita alami seharusnya tidak akan melebihi kekuatan kita? Lalu kenapa saya bisa jatuh? Apakah usaha saya tidak cukup keras? 
Namun dibalik semua itu, saya menyadari satu hal, saya sedang diajar oleh Tuhan. Pencobaan yang ada dipakai oleh Tuhan untuk mengasah dan mempertajam diri saya supaya semakin kuat, teguh dan memperoleh kemenangan di masa depan. Hidup memang sebuah tantangan. Ketika orangtua dan teman-teman tidak mendukung saya dalam sebuah perbuatan yang benar,atau ketika Iblis mengeluarkan jurus-jurus lihainya dalam menjatuhkan saya (I Petrus 5:8), saya tahu bahwa di sana ada Allah bersamaku. Mungkin diluar saya dapat terlihat kuat, namun di dalam diri ini siapa yang mengerti. Kekosongan dan kehampaan tanpa Yesus. Saya tidak tahu seperti apa saya sekarang jikalau tanpa Dia. Mungkin saya sudah tidak dapat lagi menulis kesaksian ini, karena saya pernah berpikir untuk mengambil jalan pintas dalam mengakhiri hidup yang penuh  penderitaan ini. Namun suaraNya yang sangat lembut selalu mengingatkan apa yang harus saya lakukan. Dibalik pergumulan itu ada pelajaran berharga.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•10:20 PM
PRIBADI YANG PRIORITAS DI KEHIDUPAN INI. 
(Sebuah perenungan untuk karya hari ini)
Mengejar kepuasan duniawi akan mendatangkan kehampaan sanubari.(Peter Lau,3 Des 2009).
Malam menjadi semakin gelap karena sinar bintang dan rembulan yang terhapus oleh kepekatan awan. Orang-orang berjalan hidir mudik di jalan raya tanpa peduli hembusan angin malam yang menusuk di hati. Desah nafas menguap dikeheningan malam nan sunyi. Sunyi yang timbul dari dalam hati. Kesunyian yang berdampingan dengan kehampaan nurani. Malam itu seharusnya aku bersukacita, karena sebuah prestasi yang berhasil kuraih. Wajah-wajah yang tersenyum dan perkataan yang memuji diri ini, tiada mampu mengusir kehampaan sanubari. Tangan-tangan yang terulur menyalami tak meninggalkan kesan dan memori yang berarti. Ya...malam itu semua menjadi hampa ketika mendapati diri ini hidup berjalan menuju kekosongan arti.
Malam itu usiaku sekitar 20 tahun. Aku begitu bangga karena menyelesaikan semua drama yang dipersembahkan kepada umat Tuhan di gereja tempat aku mengenal Kristus menjadi juruselamatku. Sebuah drama tentang kehidupan seorang hamba Tuhan negara Korea pada masa sebelum perpecahan Korea Utara dan Korea Selatan. Beberapa hal yang patut membuat kubangga adalah aku menjadi penulis ulang cerita yang disesuaikan dengan konteks penonton, terlibat sebagai pemain utama dan sutradara. Sekalipun durasi pementasan 40 menit, namun mampu menghasilkan kesan dan prestasi yang begitu baik. Aku harus berkata dengan jujur bahwa itu semua berkat kerjasama dan kemauan yang keras dari semua rekan muda saat itu. Semua pemain bahu membahu berkomitmen mensukseskan pementasan drama di HUT Sekolah Minggu Remaja, dan memang terbukti berhasil.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•6:53 PM
KETIKA ISTRI HARUS (IKUT) BEKERJA.
Hidup di zaman sekarang ini sering kali membuat suami dan istri harus sama-sama bekerja, sehingga hal ini dapat menimbulkan persoalan keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Seorang suami memang seharusnya bekerja, namun apabila para istri ikut bekerja juga, maka keduanya perlu memikirkan tentang bagaimana menjaga keseimbangan peran mereka sebagai orangtua bagi anak-anaknya dan keseimbangan hubungan diantara mereka sebagai suami dan istri. Seorang istri bekerja dapat terjadi karena beberapa alasan diantaranya persoalan finansial, merasa jenuh tinggal di rumah,terbiasa bekerja formal, menjaga sumber daya dirinya, ataupun karena hal lain. Sebab itu, apabila istri memang harus bekerja, maka beberapa hal di bawah ini seharusnya dilakukan, supaya kehidupan keluarga dapat berjalan baik, yaitu:
1. Menjaga kualitas hubungan dirinya dengan TUHAN.Apabila seseorang memasuki dunia kerja, maka mau tidak mau ia harus memasuki sebuah daerah perjuangan. Tiada pekerjaan di dunia ini yang tidak menimbulkan persoalan dan stres. Tak ada satupun pekerjaan yang dapat dilakukan dengan mudah. Semua pekerjaan pasti membuat kita meneteskan peluh dan menguras energi serta pikiran kita. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan sering kali menimbulkan berbagai ketegangan dan ketidaknyamanan bagi kehidupan kita baik secara pribadi maupun keluarga. Memang saya tidak pungkiri bahwa ada saatnya kita merasa berbahagia karena mendapat hasil dari pekerjaan tersebut, namun kesulitan yang timbul seringkali meminimalkan rasa sukacita tersebut. Sebab itu, supaya tekanan-tekanan yang timbul dapat kita lalui, kita perlu senantiasa menjaga kualitas hubungan kita dengan sang pencipta, yaitu Tuhan.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•12:23 PM
Prakata : You'll never be lonely merupakan seri tulisan kisah nyata yang ditulis oleh para remaja sendiri bersama saya tentang keteguhan perjuangan dalam kehidupannya untuk mengasihi dan menjadi berkat bagi sesama serta memuliakan Allah. Kiranya kesaksian yang diberikan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, terutama para remaja di bumi ini. 

RINDUKU PADA AYAH.
(dikisahkan oleh Caroline)
Gambaranku.................
Ayah, sosok kebanggaan dan dambaan hampir semua anak di dunia. 
Ayah, seorang pekerja keras. Pagi-pagi sudah harus berangkat ke toko dan memulai pekerjaan sehari-harinya, dan pulang takkala mentari sudah bersembunyi di kegelapan malam.
Namun satu hal terhilang,.............
Rutinitas ayahku di setiap hari, termasuk di hari minggu, membuat selama masa remajaku ini, aku tidak dapat benar-benar merasakan perhatian, waktu dan kasih sayang seorang ayah. Padahal di masa ini, aku justru sangat membutuhkanmu. Jeritan hatiku saat ini sudah tanpa suara menantikan kehadiranmu.
Kini, harapanku padamu Ya Allahku......
Aku tetap setia mencintai keluargaku. Jangan sedikitpun kasihku ini berkurang. Aku mendambakan sebuah keluarga yang harmonis dimana kami mempunyai waktu untuk berkumpul walau tidak setiap hari. Yang kini hanyalah sebuah mimpi, namun aku akan terus mencoba meraihnya. Tekadku, tak akan pernah aku berhenti. Saat ini, hanya ibu yang selalu berusaha mewujudkannya. tetapi ada daya, beliau tidaklah sekuat ayah, beliau seorang perempuan yang memiliki keterbatasan secara fisik, beliau telah berusaha semaksimal untuk tidak mengecewakan kami, anak-anaknya. Seringkali aku kasihan dengan ibuku ketika ia berusaha dan berusaha menggantikan peran ayah, menemani kami, bercerita dan mengajarku dengan keterbatasan pengetahuannya tentang insan manusia. Mungkin beliau stress dan tertekan, sehingga terkadang dilampiaskan melalui kemarahan yang tanpa sebab....ya tanpa sebab, terutama saat beliau tidak dapat berbagi pekerjaan yang menumpuk.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•11:31 AM
MENANGGAPI ANAK PRASEKOLAH YANG RIBUT DENGAN TEMANNYA.

Suatu hari, istri saya menelepon ke ruangan saya menyampaikan bahwa Josh baru saja ditampar temannya. Saya langsung spontan bertanya, "Lho...koq bisa?". Pertanyaan saya wajar, sebab saya heran kenapa ia sampai ditampar. Josh memiliki sifat sanguin dan melankolis, pribadi yang ceria, bersahabat dengan semua usia dan lembut. Selama 3 tahun ini, rasanya ia tidak pernah menyakiti orang lain, selalu mengajak orang lain berteman dan memilih mengalah ketika ada suatu permasalahan. Saya menanggapi laporan istri saya hanya dengan satu kalimat, "Ya udahlah". 
Pertengkaran, bahkan terkadang disertai permusuhan antar anak usia prasekolah adalah hal yang sering terjadi terutama di sekolah. Pengalaman saya sebagai pendidik di TK dan SD,bahkan di SMP dan SMA, kerap kali harus mendamaikan anak-anak/siswa-siswi yang bertengkar. Mungkin persoalan untuk anak prasekolah lebih sederhana dari anak SMP dan SMA, misalnya si A merebut makanan temannya, mengambil pensil kesayangan teman sebangkunya ataupun hal-hal yang lain. Dan lucunya, ada kalanya pertengkaran ini tidak selesai dan menjadi semakin besar akibatnya serta sampai bertahun-tahun karena pertengkaran anak menjadi pertengkaran orangtua. Beberapa kali saya mendapati bahwa anak-anak yang bertengkar hari ini, besok mereka sudah main bersama-sama kembali, namun pertengkaran mereka diteruskan oleh orangtua dari salah satu atau kedua belah pihak, sehingga akhirnya, mereka bermusuhan.
Oleh sebab itu, sebagai orangtua ada baiknya kita mengetahui beberapa hal berikut ketika anak kita usia prasekolah bertengkar, baik itu di sekolah dengan teman-temannya, di rumah dengan abang, kakak atau adiknya ataupun dengan anak tetangga kita.

1. Pahami essensi(dasar) pemicu pertengkaran.Setiap anak di usia prasekolah memiliki sifat egosentris. Karena dosa, semua manusia yang lahir ke muka bumi ini memiliki sifat egois. Prioritas tertinggi bagi manusia adalah dirinya sendiri. Sifat egois ini membawa manusia untuk selalu mendahului kepentingannya dan berusaha mencukupi semua kebutuhannya serta tidak senang bila kepentingan dirinya terusik oleh orang lain. Dengan demikian, perlu kita sadari bahwa semakin kecil usia seorang anak manusia, maka sifat egois itu akan semakin tinggi. Tugas orangtua adalah mengajar dan melatih anak sejak dini untuk tidak egois. Bila tidak, ia akan bertumbuh menjadi manusia egosentris. Sadar atau tidak, dasar pemicu pertengkaran anak prasekolah adalah sifat egois ini. Bila orangtua sangat memanjakan anak dan menjadikan ia "raja" di rumah maka sifat egois ini akan makin besar, sebab itu orangtua perlu memperhatikan pola asuhnya. Pola asuh yang salah akan membentuk karakter yang salah dalam diri anak. 
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•11:10 PM
SEBUAH KATA.....
Sebuah kata yang terucap dapat menjadi obat kehidupan atau racun kematian bagi sesama.(Peter Lau/26 Nov 2009).
Sejak kecil, kedua orangtua kami sering mengingatkan saya dan adik-adik saya dengan kalimat, "Khong Sa Mo Ji, Thang Sa Nyip Nyi." 
Kalimat tersebut diucapkan dalam bahasa Khek, yang artinya,"seorang yang berbicara biasanya tidak punya maksud(menyakiti, menghina atau maksud jahat yang lain) namun orang yang mendengar pasti akan masuk ke dalam telinganya(artinya di simpan di hati)". Orangtua kami ingin menyampaikan bahwa mungkin ketika kita berkata-kata, kita tidak punya maksud tertentu, asal berbicara saja, atau keceplosan dari mulut kita, namun pasti terjadi, orang yang mendengar akan menyimpannya dalam hati. Apalagi kalau kalimat itu memalukan, menghina atau menyakiti dirinya. Kalimat yang menyakitkan tidak akan atau sulit terhapus oleh sebuah kata "maaf" dari diri kita. Itulah sebabnya, mereka selalu mengingatkan kami untuk selalu berhati-hati ketika berkata-kata.
Bagaimanapun situasi kita setiap hari, pasti ada satu hal yang kita kerjakan yaitu berkata-kata. Hal ini berlaku bagi siapapun. Mungkin bagi kita yang memiliki kemampuan berbicara, maka kata-kata itu terungkap melalui ucapan yang keluar dari mulut kita. Bagi kita yang memiliki keterbatasan dalam menghasilkan bunyi atau suara melalui mulut kita, kita tetap dapat berkata-kata melalui sign language(bahasa tanda).Berkata-kata dapat dilakukan dengan banyak cara. Tatapan mata menghasilkan kata, sentuhan menghasilkan kata, bunyi perut yang keroncongan menghasilkan kata, wajah yang terekspresi menghasilkan kata, kening yang berkerut menghasilkan kata, membanting sesuatu menghasilkan kata, dan mungkin banyak lagi cara yang kita dapat sebutkan sebagai tindakan yang menghasilkan kata, baik itu secara formal maupun non formal, sopan maupun tindakan yang kasar.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•3:04 PM
ADAKAH RASA SYUKUR TERUCAP DALAM MULUT DAN SANUBARI KITA?

Sekalipun sudah beberapa hari berlalu, namun masih teringat dengan jelas dibenak ini, raut wajah yang ceria dan penuh semangat mengawali pembicaraan kami. Tiada rasa penyesalan dan kekecewaan kepada diri, keluarga ataupun kepada Tuhan, Sang pencipta, yang tersirat dari wajah orangtua dari salah siswa kami. Suasana pembicaraan kami sungguh mendatangkan berkat dan rasa syukur di dalam hati ini, dan menyadarkanku bahwa sungguh besar anugerah Tuhan. Sang pemilik rumah adalah seorang ibu dengan 3 orang anak yang masih duduk di jenjang TK. Keceriaannya di sore itu ketika berbagi kisah hidup dengan saya dan istri sungguh tidak mencerminkan seseorang yang sedang berjuang melawan sakit kanker paru-paru stadium 3. 
Pembicaraan kami sempat terhenti sejenak karena beliau harus ke dapur. Sambil menunggu beliau kembali ke ruang tamu, saya mengambil kesempatan untuk berpikir tentang kehidupannya. Seorang janda dengan 3 anak yang masih kecil tentu bukanlah kehidupan yang tanpa perjuangan. Sang suami yang setia, telah dipanggil oleh Tuhan beberapa bulan lalu pada peristiwa lonsor di perkebunan ketika sedang bekerja. Belum hilang kedukaan karena kehilangan suami tercinta, ibu ini terdiagnosa menderita kanker paru-paru.Sungguh sebuah kehidupan yang tidak akan menjadi pilihan siapapun. Sebuah kehidupan yang harus menjalani hari-hari tanpa kepastian waktu penyelesaian pergumulan. 
Pagi ini, saya kembali berbincang dengan seorang ibu yang lain. Ibu muda dengan anak usia sekolah dasar datang ke kantor atas undangan saya. Keinginan saya bertemu karena berharap dapat memberikan dukungan moril kepadanya. Gelombang kehidupan ibu muda ini hampir sama besarnya dengan kisah ibu di atas. Rambut yang rontok dan langkah kaki yang berjalan perlahan memberikan gambaran kepada saya mengenai keadaan ibu ini. Seorang ibu yang ditinggal oleh sang suami ketika gadis kecil mereka berumur 1.5 tahun. Usia yang belum mengerti ketika sang ayah berucap,"selamat tinggal, nak". Sejak perpisahan tersebut, semua keperluan rumah tangga dan proses pendidikan anak menjadi tanggungjawab yang harus dipikul sendiri olehnya. Sekalipun uluran tangan keluarga tetap mendampingi, namun beban kehidupan itu tetap terasa merintangi ketika menapaki hari-hari. Ujian itu menjadi semakin berat ketika setengah tahun yang lalu, sang ibu harus berserah dalam penerimaan bahwa dirinya terkena kanker payudara. Seruan dan tangisan dalam kegelapan malam seakan tidak mampu memberikan kelegaan pada rasa sesak di hati. 
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•10:03 PM
KEMENANGAN SEBUAH PERJUANGAN DAN AWAL KEHIDUPAN YANG BARU

Jam tangan menunjukkan  pukul 14.05 ketika sebuah sms masuk ke handphoneku hari ini. Kulirik nomor pengirimnya, namun tidak mendapatkan siapa pengirimnya. Aku membuka berita sms, dan tertulis, "Telah berpulang ke rumah Bapa di surga teman dan saudara kita Thomas Tjiawi hari ini 19/11/09 jam 5 pagi. Disemayamkan di rumah duka Jelambar,Lt.Dasar ruangan 3-4."

Setelah membaca berita itu, seketika tanganku berhenti sejenak dari papan ketik laptop ini, kuraih gelas di depanku dan kuteguk isinya. Tanpa kata-kata, pikiranku mulai melintasi waktu kerja ini, kembali ke masa beberapa tahun yang lalu. Thomas, atau yang biasa dipanggil teman-temannya Totoy, adalah anak muridku pada waktu aku mengajar di Sekolah Kristen Kalam Kudus Kosambi Baru. Tahun 2000-2003 merupakan masa singkat ketika aku diberikan anugerah oleh Kristus untuk menjadi guru SMA-nya. Suatu kebanggaan dapat mengajar Thomas dan semua teman-temannya. 
Aku masih ingat, betapa sopan dan sikap baik yang selalu ia tunjukkan kepada semua teman-teman dan gurunya.  Sekalipun ia tidak pernah memanggil aku dengan sebutan bapak guru, namun aku tahu ia menghargai aku sebagai gurunya. Umurku yang terpaut hanya beberapa tahun dengan mereka dan saat itu melayani sebagai pembina mereka di gereja, membuat mereka hanya memanggil Ko Peter. Keakraban dan rasa kekeluargaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam relasi kami. Bagiku, Thomas merupakan seorang adik dan murid yang baik. Sosok pribadi yang mengesankan, dan setahuku, ia selalu menjaga pergaulannya dan tidak merokok. Ku rasa tidak pernah kita akan mendapatkan kata-kata kasar dan yang menyakitkan hati keluar dari mulutnya.
Memang setelah tahun 2003, kami sangat jarang bertemu karena saya pindah pelayanan, terlebih lagi setelah Thomas serta teman-temannya telah lulus dan masing-masing meniti karir. Berita mengenai ia sakit Leukemia aku dengar beberapa bulan yang lalu. Ketika saat itu, keluarga kami cuti ke Jakarta dan tinggal di rumah mertuaku. Istri saya menyampaikan bahwa Thomas terkena leukemia. Terus terang, saya dan istri heran mengapa hal ini dapat terjadi? Thomas merupakan anak yang sangat menjaga dirinya. Olahraga basket menjadi favoritnya dan kehidupan yang baik selalu ia jalani. Namun, kehidupan yang Tuhan izinkan ia jalani berbeda dengan harapan kita semua.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•5:55 PM
KERJASAMA ORANGTUA DAN PIHAK SEKOLAH KRISTEN BAGI KEBERHASILAN ANAK.

Saya percaya semua orangtua akan setuju bahwa tantangan dunia ini semakin lama semakin berat. Jikalau kita membandingkan dengan tahun-tahun yang lalu, ketika kita masih remaja ataupun pemuda, kita akan mendapati bahwa kesulitan dan ancaman di zaman ini jauh lebih besar bagi anak-anak kita. Segala kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan tidak mampu membendung ancaman, bagi terkadang justru mendatangkan ancaman bagi masa depan anak-anak kita. Misalkan, ketika kita remaja, pornografi mungkin belum menjadi ancaman yang berarti untuk merusak moral generasi kita saat itu, namun kini, dengan kemudahan dan kecepatan akses internet, ancaman itu jelas sudah sampai di muka pintu rumah kita, bahkan masuk ke dalam kamar anak-anak kita. Memang tidak dipungkiri, bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan juga membawa kebaikan yang cukup besar, namun seiring dengan itu, ilmu pengetahuan dan teknologi juga menciptakan peluang kejahatan yang jauh lebih besar. Karena itulah, di saat ini, orangtua harus bekerja sama dengan pihak sekolah Kristen untuk mendidik anak mereka agar kerusakan moralitas dan kegagalan pencapaian tujuan hidup dapat dihindarkan.
Bagaimanakah kerjasama ini dapat direalisasikan agar anak-anak dapat menang dalam pertempuran yang menghadang perjalanan kehidupan mereka?

Beberapa saran di bawah ini mungkin dapat membantu :

1. Fokus pada persoalan keselamatan jiwa anak.

Orangtua dan sekolah Kristen memiliki peranan yang sangat krusial dalam kehidupan seorang anak. Tidak dapat dipungkiri bahwa keduanya memiliki peran penting agar kehidupan anak tersebut berhasil. Urgensitas ini adalah peranan dalam keselamatan jiwa anak. Mengapa saya kategorikan sebagai hal yang terutama? Karena hanya anak-anak yang telah sungguh-sungguh memiliki keselamatan dalam hidupnya akan mampu menjaga dirinya sendiri. Saya percaya kita sebagai orangtua menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa mengawasi anak kita 24 jam, apa yang ia kerjakan, apa yang ia pikirkan dan sebagainya. Bahkan sedekat apapun relasi kita dengan anak kita, saya dapat simpulkan bahwa kita tidak mungkin tahu keseluruhan jalan pikiran anak kita. Sebab itu, kita perlu menyerahkannya kepada sang penciptanya, yaitu Tuhan yang mampu menjaga, berbicara dan mengarahkan serta membimbingnya agar berjalan di jalan yang benar. Hanya Kristus Tuhan yang mampu mengobati luka hatinya, menghibur ketika ia berduka dan memberikan kekuatan untuk bangkit ketika ia terjatuh ataupun mengalami kegagalan.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•1:15 PM
PERCAYAKAH KITA KEPADA TUHAN UNTUK PENDIDIKAN KRISTEN BAGI ANAK KITA DI SEKOLAH KRISTEN ?

Ketika pertama kali Josh, anak kami menginjak usia sekolah dan harus mulai sekolah, dipikiran saya langsung terlintas, "Sekolah manakah yang baik untuknya? Sekolah seperti apakah yang baik baginya?". Pertanyaan saya bukan semata-mata menyangkut fasilitas dan kualitas institusi pendidikan saja, namun juga berbicara mengenai,"Adakah pengajaran iman Kristen yang sungguh-sungguh di sekolah Kristen tersebut?". Sebagai orangtua Kristen, kami percaya bahwa pendidikan terbaik bagi anak kami adalah pendidikan Kristen. Kami ingin anak kami tumbuh dan berkembang dalam lingkungan Kristen, serta memahami pengajaran iman Kristen bagi kehidupannya, dan terutama adalah ia memiliki iman yang sungguh-sungguh sebagai seorang Kristen. Kepentingan inilah yang membuat kami harus mengusahakan pendidikan yang berkualitas dan beriman baginya, agar kelak ia dapat memenuhi tujuan Allah di dalam dirinya.
Memang saat ini tersebar begitu banyak sekolah Kristen di berbagai tempat, baik itu di kota kecil ataupun di kota besar. Melalui papan nama sekolah, dengan mudah kita mengetahui identitas lembaga tersebut, namun seringkali pertanyaannya adalah "Seberapa jauhkah pendidikan iman Kristen di sekolah tersebut?".
Berdasarkan pengalaman saya, seringkali orangtua siswa mengeluhkan kurangnya kesungguhan pihak sekolah memberikan pengajaran karakter iman Kristen kepada anak mereka sekalipun tertulis dengan jelas sekolah tersebut adalah sekolah Kristen. Bahkan pihak sekolah mengadopsi berbagai metode-metode pendidikan sekuler untuk diajarkan di sekolah, sehingga anak-anak mereka tumbuh menjadi anak-anak dengan pola berpikir yang sekuler. Bahkan terkadang yang jauh lebih menyedihkan, guru-guru sebagai pendidik tidak mencerminkan karakter dan kehidupan seorang Kristen. Jujur saja, sampai hari ini, perkataan kasar(tidak sopan), tindakan kekerasan (menampar, memukul,dll) bahkan perlakukan yang mengarah kepada pelecehan masih merupakan bagian yang dilakukan oleh guru-guru, termasuk guru Kristen. Entah itu di sekolah Kristen ataupun seorang guru Kristen di sekolah umum.
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•8:52 AM
Mari bicara tentang UANG.
(bag.2)
Saya tidak tahu apakah anda sudah tahu atau belum, bahwa Yesus paling sering berbicara tentang uang di dalam pelayanan dan pengajaranNya, dan sebagian besar berupa peringatan. Peringatan tentang bahayanya kebendaan dan kekayaan muncul dalam ajaran Yesus. Di bawah ini ada beberapa kutipan dari kitab injil Lukas, :
Yesus berkata kepada orang banyak yang mengerumuninya, "Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan." (Luk.6:24)
Sungguh benar perkataan ini, adalah fakta bahwa setiap orang yang kaya seringkali merasa uang dapat menyelesaikan semua masalah dan menjadi sandaran hidupnya. Merasa dengan uang yang banyak, ia dapat memperoleh ketenangan, penghiburan dan kesenangan. Namun, ia tidak sadar bahwa ketergantungan kepada uang akan membawa malapetaka bagi dirinya di suatu hari. Bayangkan seorang yang kaya, dan mengandalkan kekayaan itu dalam hidupnya, namun tiba-tiba kekayaan itu hilang,maka ia akan kehilangan sandarannya, dan akibatnya jiwanya tergoncang dan seringkali mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri. Hal ini sudah sering terjadi. Lihatlah kasus-kasus kejatuhan ekonomi di tahun 2008. Kita akan dengan mudah mendapatkan beberapa fakta mengenai hal ini.
Yesus juga berkata, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung kepada kekayaan itu." Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh dan tidak merasa memerlukan Tuhan. Orang itu yakin berumur panjang dan berkata pada dirinya sendiri, "Engkau punya banyak kekayaan untuk bertahun-tahun. Nikmatilah hidup ini; makan, minum, dan melakukan apa yang disukai. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, "Hai engkau orang bodoh, malam ini juga hidupmu akan diambil darimu. Lalu siapa yang akan memperoleh harta kekayaanmu?" Yesus mengakhiri perumpamaan ini dengan peringatan serius, " Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (Luk.12:18-21)
Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•3:47 PM
TETAP HARUS MELAKUKAN

Jika aku berbuat baik memberi tetapi dicurigai memiliki maksud tersembunyi, TETAP HARUS KULAKUKAN........
Jika aku berbuat baik membantu tetapi tiada seorangpun tahu dan mau tahu, TETAP HARUS KULAKUKAN .........
Jika aku berbuat baik mengasihi tetapi dibalas dengan perbuatan yang tidak manusiawi, TETAP HARUS KULAKUKAN........
Jika aku berbuat baik mengajari tetapi murid tidak berterima kasih bahkan menjadi musuh sejati, TETAP HARUS KULAKUKAN.......
Jika aku berbuat baik bertahun-tahun tetapi tidak pernah dihargai, TETAP HARUS KULAKUKAN......
Jika aku berbuat baik sejuta kali dan dilupakan dalam sekali, TETAP HARUS KULAKUKAN......
Jika aku lelah dan tidak mampu lagi melakukan kebaikan, walau bagaimanapun juga.....TETAP HARUS KULAKUKAN.  (Peter Lau/06-10-2008)


 "Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." Lukas 6:33 
 Selamat melakukan kebaikan di sekeliling kita, setiap kebaikan tidak akan pernah sia-sia.







Link ke posting ini
Author: Peter Lau / Liuw Tjhin Dji Cung (founder)
•5:50 PM
ORANGTUA, PENDIDIK PERTAMA DAN UTAMA

Dalam kehidupan kita setiap hari, tentu tidak asing bila kita mendengar kisah-kisah tentang tingkah laku seorang anak. Ada anak yang memiliki prestasi gilang gemilang dan menjadi kebanggaan orangtuanya, serta mencapai keberhasilan dalam hidupnya ketika ia dewasa, namun ada juga kisah sedih seorang anak yang membuat orangtuanya harus berlinang air mata siang dan malam.Mungkin ia terjerat narkoba,ataupun tidak memiliki kemauan belajar serta masa depan yang suram dan kegagalan membayangi hari-harinya. Melihat kenyataan hal ini, tentu kita akan bertanya, mengapa hal ini dapat terjadi? Mungkin salah satu hal yang dapat kita pikirkan bersama yaitu bagaimanakah peran orangtua sebagai pendidik dalam sepanjang hidup anak tersebut?
Kita tahu bahwa orangtua merupakan wakil dari Allah untuk mendidik putra-putri yang dititipkan olehNya. Oleh sebab itu, pendidik terbaik bagi seorang anak adalah kedua orangtuanya. Ketika Allah memberikan anak kepada kita, Allah tahu orang yang paling siap, kompeten dan tepat untuk mendidik anak tersebut sebagai satu pribadi yang sesuai dengan tujuan penciptaan Allah terhadap dirinya adalah kedua orangtuanya, bukan guru,bukan teman, bukan orang lain, apalagi media elektronik. Orangtua merupakan pendidik pertama dan utama bagi seorang anak. Pemahaman ini saya dapatkan melalui pengajaran Allah bagi saya dalam satu hal yaitu soal makan.
Saya termasuk orang yang kurang bijaksana dalam menjaga tubuh ini. Seringkali bekerja dan beraktivitas tanpa mempedulikan jeritan keperluan perut ini. Istri saya sering kali berkata, "kamu harus makan yang teratur". Saya ingat pernah menjawabnya, "Untuk apa saya makan teratur?. 'toh, tidak makan teratur saja sampai sekarang, saya tidak sakit. Coba berikan alasan, mengapa saya harus makan dengan baik dan teratur?". Mungkin saat itu istri tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan saya. Ia hanya bisa berdoa dan Tuhan menjawab doanya, Tuhan memberikan jawaban bagi saya, bahwa saya harus makan dengan baik dan teratur supaya memiliki umur lebih panjang dan tubuh yang sehat serta pikiran yang tidak cepat pikun agar dapat mendidik anak kami dengan maksimal, karena hanya saya(dan istri)yang paling tepat untuk mendidik dan membimbingnya menjadi pribadi yang sesuai dengan tujuan Allah dalam dirinya. Dengan temperamen, karakter dan seluruh talenta serta kemampuan yang Tuhan berikan dalam dirinya, hanya kami yang PALING TEPAT untuk mengasah dan mempertajam semuanya itu untuk mencapai tujuan kehadiran dirinya di muka bumi ini.
Link ke posting ini